9/07/2012

Hidup dalam ilusi



Kita hidup dalam ilusi, kawan. Kita merasa berkuasa dengan pangkat dan jabatan tertentu, padahal tidak. Kita merasa punya anak buah yang bisa disuruh melakukan apapun, yang kita PD sekali yakin, disuruh makan baut pun mereka mau. Kita bisa memerintah, berteriak marah, memecat, merendahkan, kita merasa sekali. Padahal tidak. Demi Allah, semua kekuasaan yang kita miliki hanya titipan.

Kita hidup dalam ilusi, kawan. Kita merasa kaya, dengan segala harta benda, padahal tidak. Kita merasa bisa membeli apa pun, memaksa memiliki apa pun. Kalau tinggal ditolak, naikan harga tawarannya. Ditolak lagi, naikkan lagi berkali-kali lipat harganya, sampai tidak ada yang bisa menolaknya. Kita merasa bisa memiliki dunia dengan uang. Padahal tidak. Demi Allah, semua kekayaan yang kita miliki hanya titipan.

Kita hidup dalam ilusi, kawan. Kita merasa pintar, hebat sekali dengan banyak pengetahuan. Bisa membuat orang terpesona dengan kepandaian bicara, menulis, temuan hebat, teknologi. Merasa bisa menulis buku yang mengubah dunia. Merasa bisa menemukan teknologi yang membalik jalan sejarah. Padahal tidak. Demi Allah, semua kepintaran yg kita miliki hanya pemberian.

Kita hidup dalam ilusi, kawan. Berapa banyak dokter yang pongah merasa dialah yg memberikan kesembuhan? Padahal sehat dan sakit adalah milik Allah. Berapa banyak guru yang sombong merasa dialah sumber ilmu pengetahuan? Padahal ilmu adalah hadiah dari Allah, sebiji atom saja dititipkan ke kita. Berapa banyak polisi, tentara, pegawai yang merasa memegang kerah leher urusan orang lain? Padahal kekuasaan yang diberikan hanya amanah yang harus dijaga. Berapa banyak pesohor, aktor, penulis yang merasa ngetop sekali, bisa membuat trend, bisa membalik budaya, kebiasaan, semua orang kenal dia? Padahal ketenaran adalah debu hina titipan Allah. Berapa banyak orang yang punya bisnis, perusahaan, takabur, merasa kalau dialah yang memberikan rezeki ke orang lain? Padahal rezeki miliknya sendiri adalah mutlak kehendak Allah.

Kita hidup dalam ilusi, kawan. Maka berhentilah.

Berhentilah merasa lebih berkuasa, merasa lebih pintar, merasa lebih tenar, merasa dibutuhkan, merasa apa pun. Karena semua hanya titipan. Benar-benar hanya titipan. Kita harusnya menangis, berlinang air mata. Ayo, mari pejamkan mata sejenak, bayangkan saat mati tiba. Semua diambil dari kita. Apa pun itu, semua diambil begitu saja. Persis seperti anak kecil yang diambil mainan kesayangannya. Bedanya, anak kecil itu bisa berteriak marah. Tapi kita, hanya terbujur kaku, bahkan satu kata protes pun tidak bisa lagi.

Duhai Rabb, Yaa Rahman, benar-benar semua ini hanya titipan. Tidak lain, tidak bukan. Maka, please Yaa Allah, ajarkanlah selalu di hati kami kesadaran : bahwa bahkan diri kami sendiri, diri kami sendiri pun bukan milik kami.

Jauhkanlah perasaan merasa lebih dibanding orang lain. Walau sekecil apapun. Jauhkanlah.
~DTR~

2 komentar:

  1. Aslm...wr wb
    membaca tulisan ini mengingatkan saya pada pidato Abu bakr ash-sidiq saat dilantik jadi khalifah, dan Umar Al Khattab saat menggendong sendiri tepung dengan punggungnya..
    Hadza Min Fadli Rabbi..
    Itu karena karunia Tuhan,
    bahkan kesolehan pun adalah karena karuniaNya

    BalasHapus

Welcome to my "freak" blog site.
You don't have to send the greatest note in the world or come up with clever phrases.
Just let them know you appreciate it.
When have you ever wished someone hadn't thanked you?
Any comments are very meaningfull for a better the writing writer's.
^_^
arigatou gozaimashu.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...