3/08/2011

satu cerita



Pernah baca novel 5 cm? Saya lupa kapan pertama kali saya membaca novel itu, kelas 1 SMA mungkin. 5 cm merupakan sebuah novel yang menceritakan tentang persahabatan lima orang yang dari kecil sampai mereka duduk di bangku kuliah selalu bersama. Cerita berawal dari sebuah tongkrongan lima orang yang mengaku “manusia agak pinter dan sedikit tolol yang sangat sok tahu” yang sudah kehabisan pokok bahasan di saat-saat nongkrong sehingga akhirnya cuma bisa ketawa-ketawa. Persahabatan, kata yang sangat saya suka. Saya sangat suka memiliki banyak sahabat, ketika teman-teman kelas hanya kenal dengan satu departemen saja, itu tidak berlaku bagi saya. Saya harus kenal dengan satu fakultas. Ketika SMA pun begitu, saya kenal dengan semua teman satu angkatan saya. Karena saya suka membuat sebuah komunikasi.


Me and You Vs the World
Ada hal yang unik ketika saya sudah berkumpul dengan sahabat saya. Tingkat ke-pede-an kami naik menjadi 300 kali lipat, lebih bahkan. Saya bingung kenapa saya bisa berteman dengan mereka. Karena mereka ternyata ajaib-ajaib, pinter-pinter, dan asik-asik. Saya jadi minder, tapi saya suka dengan mereka. Kemana-mana, becanda bego, jalan-jalan ga jelas, ngelakuin hal aneh. Dan itu hanya bisa saya lakukan ketika saya dekat dengan mereka. Ngobrol bersama mereka sambil mengagumi langit malam yang agak mendung dengan bulan yang mengintip sedikit di balik awan kelabu, mengeluarkan semburat biru kehitaman. Mengeluarkan semua keluh kesah, penat selama kami menjalani kehidupan di tanah rantau, dan diakhiri gelak tawa menertawakan kekonyolan masing-masing.

3/02/2011

"Love" analogy;



It’s well known that from all kinds of interpersonal relationship, love relationships occupy an important place in human lofe. Luckily, although his position very essential, no special skills or expertise required to fall in love. No need to learn first to fall in love because it came naturally. “We are born to love”. Likewise, although born to love we often have difficulty to know what love is.

Love is a feeling that is characterized by closeness, intimacy, passion and commitment with our partner. Love is an interpersonal relationship that is developed, maintained, and sometimes also destroyed through communications. On the other hand, communication can fosfer love. Similarly, little scientific has having a research about the meaning of love. What’s interesting here is, it turns out love doesn’t always present itself. Sometimes he needs to be created through communication. As the saying goes, don’t know it was love, and in the Javanese culture is also known expression “witing tresno jalaran soko kulino” (love comes as familiar).

*capek nulis pake bahasanya orang lain ternyata, pindah channel dulu ke mode Bahasa Indonesia yuk*

2/26/2011

Terbang;



Ini sih impian manusia sejak dulu. Manusia selalu saja ‘cemburu’ pada hewan-hewan yang bisa terbang tanpa memerlukan alat-alat bantuan, cukup dengan mengepakkan sayapnya saja. Tidak berhasil terbang sendiri tanpa sayap, manusia pun meniru konsep burung-burung di udara dan mengaplikasikannya pada desain pesawat terbang. Kedua sayap raksasa di sisi pesawat terbang telah berhasil menerbangkan pesawat buatan manusia itu. Teknologi sudah berhasil merealisasikan mimpi manusia. Tetapi, teknologi canggih ini tetap ada kekurangannya. Kita jadi terkurung dalam kabin pesawat sepanjang perjalanan mengarungi angkasa. Nikmatnya jadi berkurang. Lagipula, kita tetap tidak bisa merasakan kebebasan seperti burung yang terbang di udara. Kaki kita tetap menginjak permukaan lantai pesawat. Wah, ini sih sama saja bukan terbang! Lalu, bagaimana caranya kita bisa benar-benar merasakan kaki terangkat di udara tanpa ditopang apa pun juga? Merasakan sensasi berada di atas udara selama beberapa saat, itulah yang ingin saya lakukan. Mencoba untuk tidak “menjejakkan” kaki barang 1-3 detik saja sudah membuat saya merasa hidup ini indah. ^_^

2/22/2011

Go ahead;



Melihat iklan A-mild, tidak terkesan dengan iklannya, namun dengan kata-katanya.
Ada sesuatu tersirat di balik puisi yang menjadi prolog iklan itu.
Entah apa yang dimaksud oleh sang penulis, tapi menurut saya itu bagus, ada pesan yang ingin disampaikan di sana.

untuk yang tak pernah nyaman, yang tak pernah berhenti mencari.
untuk siapa yang bertujuan untuk tersesat, mengikuti kemana hati ingin pergi.
untuk yang malu untuk malu, berusaha sama agar berbeda.
untuk yang takut, takutlah pada penyesalan.
untuk sang pelopor dan sang pemberontak, lupa daratan pada setiap tantangan dan kemungkinan.
untuk yang siap tersandung tanpa harus jatuh,
untuk yang siap mencari dan tersesat,
untuk yang siap hidup untuk diri.

2/15/2011

Laa ba'sa thohurun, insyaa Allah


“Assalamu’alaykum, enhar?”
“wa’alaykumsalaam warahmatullah, ono opo chal?”
“bisa tolong jemput di gym nggak har? Aku nggak kuat jalan ni”.
“lahh..kenapa? yowiz, tunggu di gym ya, jangan kemana-mana dulu”.
Tuuutt..tuutt..tutt…

Percakapan singkat itu ditutup dengan badan saya yang masih bersandar di bangku penonton gymnasium kampus. Namun karena yang ditunggu tidak kunjung datang, akhirnya saya diantar ke kosan oleh teman kelas saya. Sampai di kosan, badan saya langsung direbahkan di ruang tengah. Dengan kondisi antara sadar dan tidak sadar, mungkin karena kondisi badan saya yang panas. Setelah dibiarkan istirahat sebentar dan ditanya gimana keadaan saya, mereka memaksa saya untuk check up malam itu juga. Padahal menurut saya kalaupun ditunda besok pagi juga tidak apa-apa, biar malam ini istirahat dulu saja. Memang benar, satu muslim dengan muslim yang lain itu ibarat satu tubuh. Kalau yang satu merasakan sakit, maka yang lain pun akan merasakan sakitnya juga. Itulah mengapa teman-teman saya memaksa untuk langsung check up malam itu juga.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...